Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Tuesday, 20 February 2018

The Bucket List (2007)

8.5/10.0

image
Morgan Freeman as Carter Chambers
Jack Nicholson as Edward
Sean Hayes as Thomas
Beverly Todd as Virginia/Carter’s Wife
Pelem yg dibintangi oleh Morgan Orang-Bebas as usually orang yg selalu bijak. Mirip gua #le
image
Ya entah mengapa kalo dia main pasti jd sosok yg bijak, humble, dewasa. Dan kayak di pilem ini, dia jd seorang yg divonis kanker. Kesehariannya yg kerja di bengkel selama 40 tahun lebih. Keren yaak?! Gua aja baru kerja setaun udah mau resign. #lah
Setelah tau dia kena cancer, maka dia pun di rawat inap di sebuah rumah sakit. Di tempat itulah, dia bertemu dgn seorang kaya raya bernama Edward. Milyarder ini adalah pengusaha ulung, punya banyak rumah sakit dan bisnis lainnya. Dia dirawat di ruangan yg sama dgn Carter, padahal dia pengen ruangan sendiri. Maklum orang kaya kan bebaaasss, pengen ruangan yg VVVVVVVIP pokoknya. Namun, dia dianjurkan untuk merakyat karena prinsip dia sendiri. “We give the highest standard for patient, two beds for one room.” Agar citra nya gak buruk, ya dia gak boleh jilat ludah sendiri dong. Fyi, doi pemilik rumah sakit ini.
Awalnya mereka gak saling kenal, lalu mereka pun ngobrol ngalor ngidul seperti cerita ke temen baru aja. Dari keluarga hingga pengalaman hidup. Lalu di saat gabut, Carter iseng bikin daftar keinginan atau the bucket list.
image
Ada 4 poin kan di atas.
1. Witness something truly majestic
2. Help a complete stranger for the good
3. Laugh until i cry
4. Drive a shelby mustang
Dan….setelah si Edward liat maka ditambahin list yg aneh-aneh. Dicium cewe tercantik lah, terjun payung lah, liat pyramid, tembok cina, taj mahal, dll. Dan itu semua mereka lakuin. Goks kan! Ya kalo dibayarin sih, ane jg mau bang!
image
Ada uang ya semua kebeli bang… hahaha… di tengah jalan-jalan mereka, Virginia atau istrinya Carter khawatir, trus nelpon si Edward. Maka dibujuklah si Carter agar cepat pulang. Tp dia msh kekeuh sama jalan-jalan. I owe the risk ceunah. Hingga akhirnya dia disetting ketemu ama cewe cakep, dan ngajak tidur bareng. Carter pun nolak, dan jd teringat sm istrinya. So dia pun pengen pulang. Agak kesel dia knp caranya gitu. Gak mau kalah, Carter setting perjalanan pulang ke rumah anaknya Edward, yg mana dia pernah cerita kalo dia udah gak dianggep ayah lg sama dia. Dan si Edward pun marah gegara dia gak mau ketemu sama anaknya. Gak usah ngatur-ngatur hidup aing! Kurang lebih demikian lah wkwk.
Setelah mereka pulang ke rumah masing-masing. Carter pun bahagia bs kumpul sama keluarganya. Edward sedih gara-gara pertengkaran terakhirnya dgn Carter. Sampe suatu saat, Carter pun sakit lg dan setelah diperiksa dokter ternyata cancer nya udah nyebar ke seluruh otak. Operasi pun harus dilakukan. Sesaat sebelum operasi, Edward dateng buat jenguk. Dan mereka ngobrol banyak, salah satunya tentang Kopi Luwak. Yap, kopi asal Sumatera ini cukup sering disebut di film ini. Waah bangga jg ya jd Indonesian. #WonderfulIndonesia
Diceritain kalo kopi luwak itu, kopi dari tai luwak. Dan mereka ngakak bareng-bareng wkwkwkwk. Aing yg udah tau info itu aja ikut ketawa gegara denger ketawa mereka. Hahaha. Lalu dia nyoret satu poin dr bucket list
3. Laugh until i cry
Dia pun dioperasi dan…gak ketolong 😓😓
Edward pun sangat senang bs mengenal Carter, karena 3 bulan sebelumnya, mereka gak saling kenal. Dan 1 bulan terakhir, dia menjadi sahabat terbaik (yg dia panggil Ray). Sambil dia berpidato di pemakaman nya, dia pun nyoret poin :
2. Help a complete stranger for the good
Hingga akhirnya, Edward juga mati. Yg buat menarik adalah, mereka mati dgn di-kremasi. Karena mereka pernah ngobrol ingin mati seperti apa. Kremasi dan abu nya ditaro di kaleng “Chock Full o'Nuts”. Dan kaleng itu, ditaro di tempat tertinggi di dunia, yaitu Pegunungan Himalaya. Yg naro nya si asisten Edward, yaitu Thomas. Dia lah yg menggenapi semua list yg kudu dicoret. List terakhir yaitu :
1. Witness something truly majestic
Karena di atas gunung itulah, pemandangan yg luar biasa. Dan dua kaleng isi abu itu ada disana, di bawah tumpukan batu. Jd penasaran deh, itu beneran ada gak yah disana? Haha. Semoga kesampean deh naik gunung itu. Hehe.

Well, sekian review nya. Salam dari garpit dan segelas cikopay~
image

Thursday, 6 October 2016

Critical 11

When you’ve lived here almost of your life, you sometimes forget how powerful Jakarta is. It changes people, it breaks people, it makes people, it shifts values, every single second it comes in touch with them. Jakarta sedemikian kuatnya, sehingga siapa pun yang pernah bersentuhan dengannya tidak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus meredefinisikan semua tentang diri mereka sendiri. Meredefinisi makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters, and what doesn’t.
Ada yang bilang Jakarta itu, jika diibaratkan dalam sebuah hubungan, adalah seperti pasangan yang abusive, yang selalu menyiksa, yang membuat kita berulang kali mempertanyakan arti kasih sayang dan cinta, yang menguji kesabaran setiap kali dia memukul kita berulang-ulang, but yet we stay. Yet, we don’t leave.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa kita tidak pernah bisa melepaskan kota ini. Jakarta mengingatkan betapa kita sebenarnya bisa sangat kuat. And we love to be reminded how strong we can be, right?
Jordan Rane, seorang jurnalis CNN, pernah menahbiskan Jakarta di urutan nomor tujuh kota yang paling dibenci di dunia. More than 2,4 millions cities in the world and we got lucky number seven! Tapi kita semua tetap cinta Jakarta, kan? Karena kota yang sering kita sebut kejam dan keras ini sebenarnya menyimpan banyak cerita di setiap sudutnya. Cerita tentang kencan pertama ribuan pasangan waktu masih berseragam putih abu-abu di Roti Bakar Edy Blok M. Tentang seorang laki-laki usia pertengahan tiga puluhan, dengan wajah yang tidak pernah tidak letih karena bertahun-tahun menjadi budak korporasi, tetapi selalu ada senyum tipis yang tergurat di bibirnya setiap melintasi Melawai, teringat masa-masa jayanya jadi anak nongkrong pameran mobil ceper paling keren belasan tahun yang lalu. Tentang seorang Ibu yang mendekap kantong plastik erat-erat di dadanya, sambil tetap berusaha berdiri tegak di tengah impitan puluhan penumpang lain dalam satu gerbong commuter line, karena di dalam kantong plastik itu ada sesuatu yang sangat berharga buatnya; boneka baru untuk anak perempuannya yang sudah menunggu di rumah, hasil menabung uang lembur berminggu-minggu.

Critical Eleven, karya Ika Natassa hal 143-144


Sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Bermula dari keisenganku di sebuah toko buku daerah kwitang. Begitu melihat judulnya, rasa tertarik pun muncul dan katanya 

angka sebelas adalah menit-menit krusial dalam dunia penerbangan. 3 menit sesaat sebelum take off dan 8 menit saat mau landing. 

Karena 80% kecelakaan pesawat terjadi pada rentang waktu tersebut. Oh begitu yah! Selebihnya buku ini bercerita tentang kisah percintaan dua orang yang baru bertemu dalam sebuah pesawat. Ini sih gue banget!!!
Susunan cerita yang sangat unik dan sangat menghibur tentunya, dikemas dengan baik oleh pengarang @ikanatassa. Hehehe.